Sabtu, 24 Oktober 2009

''Menikmati'' Pemikiran Broadbent, Mangunwijaya, Jencks dan Kurokawa

15 Januari 2008
oleh : Jolanda Atmadjaja Herlambang


Kegiatan ‘berpikir’ dalam mendesain tentunya merupakan hal yang wajib dilakukan setiap desainer. Sebagai tahapan dalam proses desain - filosofi desain umum divisualisasikan, secara praktis diwujudkan dan ‘dinikmati’ pengguna desain melalui produk desain yang dihasilkan. Begitu pula dengan desain arsitektur, ‘buah pikir’ dapat dinikmati di antaranya melalui pengalaman ruang dan kegiatan apresiasi bentuk arsitektur.

Di awal abad ke-20 kita kenal Frank Lloyd Wright dengan konsep Organik-nya, Mies van der Rohe dengan Less is More –nya juga Le Corbusier dengan konsep ‘Five points of a New Architecture’ dan sculptural concrete architecture – nya. Di akhir abad ke 20 kita kenal Peter Eisenman dengan Arsitektur Dekonstruksi – nya, juga gerakan Metabolis yang dirintis Kisho Kurokawa, dkk. (untuk selanjutnya Kurokawa mengembangkan konsep Simbiosis) dan masih banyak arsitek pemikir yang fenomenal.
Lalu bagaimana dengan pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan? Akankah juga mampu memberi ‘kenikmatan’ tersendiri pada pembaca seperti halnya pengalaman estetis dalam menikmati karya arsitektur dan karya desain lainnya?

Sepanjang pengalaman ‘membaca’ saya di antara banyak tulisan di bidang desain arsitektur ada tulisan 4 orang arsitek pemikir fenomenal yang dipublikasikan pasca tahun 1970-an yang menggugah pikiran dan kesadaran saya : Geoffrey Broadbent, Charles Jencks, YB Mangunwijaya, dan Kisho Kurokawa.

Secara umum melalui pemikiran ke 4 tokoh ini proses desain dan estetika bentuk, khususnya, dipandang sebagai suatu yang utuh. Desain merupakan keterkaitan segala aspek dalam obyek desain, obyek desain dengan lingkungannya, sekaligus juga hubungan desainer, obyek desain dengan pengguna, penikmat desain. Desain merupakan media penyampai pesan, selain memiliki dimensi – seperti kata Vitruvius - fungsi, struktur dan estetika.

Sementara estetika bentuk merupakan ‘keseimbangan’ dari segala aspek dalam desain, cenderung bersifat kontekstual dan merupakan ‘jiwa’ desain. Estetika bentuk tidak dipandang hanya melalui tampilan atau keindahan fisik atau pun melalui hasil komposisi dari unsur rupa (garis,bidang,bentuk 3d,tekstur,dll.) dengan penerapan prinsip desain (kesatuan,keseimbangan,irama,dll.) saja. ‘Meaning’ dalam desain dengan tingkatannya (denotatif atau pun konotatif) merupakan aspek penting estetika bentuk.

Geoffrey Broadbent

Sumber gambar : http://www.wessex.ac.uk/news/architecture.html

Kita kenal Broadbent dengan bukunya ‘Design in Architecture’ (1980) yang memuat hal-hal mendasar dalam desain arsitektur dan menjadi pegangan wajib mahasiswa, akademisi, arsitek maupun peminat desain arsitektur lain. Arsitektur dengan pendekatan manusia, pemikiran sistematis dan menyeluruh, mencakup aspek logis, intuitif dan kreativitas yang dibutuhkan dalam mendesain diurai secara mendetail dalam buku ini.

Hal fundamental dan menarik untuk dikembangkan yang dipaparkan pula oleh Broadbent adalah pendekatan bentuk. Broadbent membagi pendekatan bentuk ke dalam empat kategori (1973 : 25 – 54)
Pragmatik – pendekatan melalui tahap percobaan, trial and error

* Ikonik (selanjutnya dikembangkan menjadi Tipologik) – pendekatan melalui tradisi, kebiasaan yang telah umum dilakukan atau berdasar
kesepakatan sosial
* Analogik – pendekatan analogi alam, atau segala sesuatu (kerja tubuh
manusia, teori fisika, dsb.)
* Kanonik/Geometrik (menurut Broadbent dalam makalah seminar arsitektur di Univ. Parahyangan tahun 1987 pendekatan Kanonik
dikembangkan menjadi Sintaksis) – pendekatan sistem geometris, matematis, keteraturan, modul, dsb.

Selanjutnya Broadbent mengembangkan konsep bentuk nya dalam konteks semiotika (ilmu tanda) berdasar teori Peirce dan Piaget dalam buku ‘Sign, Symbol, and Architecture’ (1980 : 311 - 330)

* Pragmatik sebagai Indeks
dikategorikan dapat merupakan petunjuk sesuatu dan sebagai tanda – pesan dapat direspon secara langsung
* Analogik dan Kanonik sebagai Ikon,
hasil olah bentuk baik secara matematis, metafora, dsb. dan sebagai tanda – obyek menunjukkan maksud yang ingin disampaikan
* Tipologik sebagai Simbol
merupakan hasil kesepakatan sosial, kebiasaan umum, dan sebagai tanda - pesan dapat diketahui maksudnya dengan melihat hubungan obyek dengan lingkungan yang ada di sekitar juga hubungan-hubungan dalam obyek, bersifat kontekstual

Melalui telaah bentuk kita mengetahui bahwa aspek komunikasi merupakan hal penting dalam arsitektur. Arsitektur sebagai bahasa dan merupakan kumpulan ‘tanda’. Pernyataan ini diuraikan pula oleh Jencks dalam buku yang sama (1980 : 107 – 110) bahwa arsitektur sebagai tanda dapat merupakan indeks, ikon maupun simbol. Arsitektur sebagai a way of life sign, pernyataan status sosial ekonomi, pernyataan dari kepercayaan, tradisi, makna antropologis yang mencerminkan kondisi sosial ekonomi suatu wilayah, tanda dari fungsi dan aktivitas dalam bangunan, fungsi sosial, psychological motivation, struktur, temperature control, environmental service, pernyataan konsep ruang, komunikasi bentuk tiga dimensional - a sign of formal articulation.

Hal ini membuka pikiran untuk melihat desain sebagai bagian dari proses sosial budaya dan aspek bentuk merupakan salah satu media komunikasi visual, yang dapat menjembatani desainer dengan masyarakat pengguna dan pengamat.



Yusuf Bilyarta Mangunwijaya


Sumber gambar : http://id.wikipedia.org/wiki/Y.B._Mangunwijaya

Pemikiran menyeluruh dan kontekstual, paduan seimbang logika, intuisi dan kreativitas serta muatan sosial budaya desain terangkum pula dalam pemikiran ‘guna dan citra’ oleh YB Mangunwijaya dalam buku ‘Wastu Citra’ (1988). Mangunwijaya menekankan pula bahwa kearifan budaya lokal mampu menjadi solusi desain yang ‘membumi’, ramah lingkungan dan lebih bersifat ‘abadi’.

Citra arsitektur tidak terlepas dari potensi-potensi alam, sifat manusia yang ada di sekitarnya, menunjukkan keselarasan dengan alam sekelilingnya. Arsitektur yang baik, yang indah tidak terlepas dari ekspresi dan realisasi diri, bukan hanya penonjolan aspek fisik saja. Oleh karena itu arsitektur, yang berasal dari kata architectoon / ahli bangunan yang utama, lebih tepat disebut vasthu / wastu (norma, tolok ukur dari hidup susila, pegangan normatif semesta, konkretisasi dari Yang Mutlak ), karena wastu lebih bersifat menyeluruh / komprehensif, meliputi tata bumi (dhara) , tata gedung (harsya ), tata lalu lintas (yana) dan hal-hal mendetail seperti perabot rumah, dll.

Total-architecture tidak hanya mengutamakan aspek fisik saja, yang bersifat rasional, teknis, berupa informasi tetapi mengutamakan pula hal-hal yang bersifat transendens, transformasi, pengubahan radikal ke-ada-an manusia. Oleh sebab itu citra merupakan bagian yang sangat penting dalam berarsitektur.Citra menunjuk pada sesuatu yang transendens, yang memberi makna. Arti, makna, kesejatian, citra mencakup estetika, kenalaran ekologis, karena mendambakan sesuatu yang laras, suatu kosmos yang teratur dan harmonis.

( YB Mangunwijaya, Wastu Citra, 1988 : 326 – 337 )

Pemikiran Mangunwijaya yang kontekstual, peka terhadap kearifan lokal, ‘membumi’ diwujudkan dalam karya-karyanya seperti area ziarah umat Katolik di Sendang Sono, Muntilan ataupun pemukiman tepi Kali Code, Yogyakarta ( kini sudah tidak terawat lagi ). Kejujuran fungsi, bahan dan struktur menentukan estetika bentuk bangunan dan kawasan karya Mangunwijaya yang menunjukkan kesatuan dengan alam dan merupakan konsistensi perwujudan konsep guna dan citra yang dicetuskannya.



Sendang Sono, Muntilan, Jawa Tengah
sumber gambar :
http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/places-of-interest/sendang-sono/


Charles Jencks

Sumber gambar : http://www.charlesjencks.com/biography.html



DNA for KEW Gardens, London (2003)
Sumber gambar : http://www.charlesjencks.com/kew.html

Sementara Jencks dalam karyanya ‘The Architecture of The Jumping Universe’ (1996) menjadikan teori-teori kontemporer tentang alam semesta seperti teori chaos dengan butterfly effect-nya, fractal, kompleksitas, nonlinearity, dll. sebagai dasar pemikiran arsitektur. Memadukan sain dengan perkembangan arsitektur dengan tujuan memberi pemahaman bahwa arsitektur mencerminkan pula pandangan tentang alam semesta. Jencks menggunakan pula istilah Form Follow World View.

The Butterfly Effect – little changes can have extraordinary and unpredictable consequences.

The universe is much more like a butterfly than a Newtonian machine. The universe is self-organizing, unpredictable, creative, and self-transforming. Every living thing has the property of self-repair, a small version of its great power of self-organizing.

As buildings reveal a way of life, this new world view will be most visibly expressed in architecture. Architects express the ideals of an age. Architecture is built meaning. We may speak or write our thoughts.

Architecture reveals what we believe, how we want to live. It fatefully expresses who we are. ( Charles Jencks, The Architecture of The Jumping Universe, 1996 : 11 – 13 )

Fraktal merupakan struktur yang memiliki substruktur yang masing-masing substruktur memiliki substruktur lagi dan seterusnya. Setiap substruktur adalah replika kecil dari struktur besar yang memuatnya. Contoh fraktal dalam arsitektur adalah penerapan permainan perulangan bentuk geometris dengan keragaman dimensi dan peletakan sebagai bagian struktur , atau juga denah dengan bentuk dasar lingkaran dengan 2 ukuran berbeda bertumpu pada pergerakan spiral pada susunan tangga, dll.

Bagi Jencks karya Frank O. Gehry, Vitra International Headquarters, di Birsfelden, Switzerland (1992 – 4), dianggap memiliki kedalaman dan kreativitas melalui paduan yang saling melengkapi antara bentuk-bentuk dinamis, biomorfik pada bangunan dengan fungsi ruang ceremonial meeting dengan bentuk-bentuk formal, teratur, grid pada bangunan fungsi kantor. Struktur dalam bangunan menentukan dan memiliki kesatuan dengan bentuk luarnya. Setiap putusan desain merupakan hasil pertalian antar aspek di dalamnya.



Vitra International Headquarters, Birsfelden, Switzerland (1992 – 4)
Sumber gambar : http://www.netropolitan.org/gehry/vitra.html

Sedangkan karya Peter Eisenman menunjukkan kedinamisan alam melaluipemanfaatan kemajuan teknologi komputer sebagai bagian dari proses desain. Kita ketahui Eisenman sebagai salah satu pencetus Arsitektur Dekonstruksi cenderung memanfaatkan pendekatan bentuk pragmatis (menurut kategorisasi bentuk Broadbent) dalam karya-karyanya.

Pada tahun 1997 (Yakob Sutanto, Arsitektur + Tempo, Kompas 17 April 2005 : 33) Eisenman Architects di New York menjadikan kedinamisan tempo sebagai konsep dalam ‘Virtual House’ melalui simulasi digital.



Virtual House (1997)
Sumber gambar : http://prelectur.stanford.edu/lecturers/eisenman/

Prinsip arsitektur yang perlu diterapkan di tengah kompleksitas jaman ini menurut Jencks (1996 : 167 – 169) adalah :

* Alam dan ‘bahasa alam’ merupakan pendekatan desain. Desainer sebagai the originators of the second nature, melakukan penyesuaian
dengan alam juga beradaptasi dengan kemajuan teknologi
* Representasi kedinamisan sifat dasar alam semesta
* Kreativitas memuat permainan imajinasi dan pendekatan intelektual. Desain berkait dengan organizational depth, multivalence, kompleksitas dan the edge of chaos, serta merupakan ‘higher organization out of order and chaos’
* Penerapan keragaman, bottom-up participatory system , yang mampu memaksimalkan perbedaan.
o If the universe is a whole and societies as parts, are inherently self-organizing and in the end chaotic, the survival strategy will depend on a variety of models, species and approaches. The conclusion must be that one should foster a difference which will reach a maximum point of ‘self-organizing criticality’, that is, just before it explodes in complication
* Keragaman, perbedaan pemikiran desain dapat dipadukan melalui metodemetode yang mampu mengakomodir keragaman
* Beragam kebijakan berorientasi lingkungan dan kearifan lokal menjadi dasar desain.
* Arsitektur memuat kompleksitas permasalahan, mengakomodir beragam tuntutan yang kontradiktif. Sebagai bahasa - arsitektur mengadopsi simbol, makna alam, baik lokal maupun universal
o It should have a double-coding of these concerns with aesthetic and conceptual codes
* Sain, khususnya sain kontemporer sebagai penyingkap tanda-tanda alam dijadikan pendekatan dalam arsitektur.
o A cosmogenic architecture must embody imagination in action, it must dramatize creative processes, or it is nothing. Its spiritual role is to portray the laws and be emergent – that is surprise

Pemikiran Jencks membuka peluang kita untuk lebih luas memandang arsitektur sebagai mikrokosmos yang mencerminkan makrokosmos, seperti yang telah dipaparkan Mangunwijaya. Pandangan tentang alam semesta selalu berubah dinamis sejalan perkembangan jaman, begitu pula dengan pemikiran dalam arsitektur. Perkembangan sain dan teknologi dapat menjadi sumber inspirasi dan penunjang utama dalam proses desain, selain juga aspek ekologis (konsep ekodesain).
( Informasi lain tentang Jencks dapat diakses di www.charlesjencks.com )


Khiso Kurokawa

Sumber gambar : http://www.kisho.co.jp/page.php/4

Mikrokosmos sebagai pencerminan dari makrokosmos dijabarkan pula oleh Kisho Kurokawa. Kurokawa menyatakan bahwa arsitektur menjelang dan awal abad ke 21 berada dalam periode Age of Life di mana proses kehidupan : metabolisme, metamorfosis dan simbiosis dapat dicerminkan dalam perwujudan arsitektur. Kita ketahui Kurokawa merupakan salah satu pencetus gerakan Arsitektur Metabolis di
tahun 1960-an.

In the age of life, it is the very plurality of life that possesses a superior and rich worth. The rising interest in the environment and the new importance given ecology aim at preserving the diversity of life.

Life is the creation of meaning. The life of the individual and the diversity each species possesses is linked to the diversity of all of the different human cultures, languages, traditions, and arts that exist on the earth. In the coming age, the machine-age ideal of universality will be exchanged for a symbiosis of different cultures. ( Informasi lain tentang Kurokawa dapat diakses di www.kisho.co.jp )

Filosofi simbiosis dalam arsitektur dijabarkan Kurokawa secara mendetail dalam bukunya Intercultural Architecture – The Philosophy of Symbiosis (1991). Arsitektur simbiosis sebagai analogi biologis dan ekologis memadukan beragam hal kontradiktif, atau keragaman lain, seperti bentuk plastis dengan geometris, alam dengan teknologi, masa lalu dengan masa depan, dll. Seperti dikatakan Jencks (sebagai pembuka tulisan), arsitektur simbiosis merupakan konsep both-and, mix and match dan bersifat inklusif. Kurokawa mengadaptasi sain kontemporer (the non-linear, fractal, dll.) pun mengambil hikmah dari pemikiran Claude Levi Strauss berkait dengan pernyataan bahwa tiap tempat, wilayah, budaya punya autonomous value dan memiliki struktur masing-masing walau dengan ciri yang berbeda. Dengan demikian mengakomodir keragaman adalah suatu keharusan. Perlu ada jalan untuk menjembatani perbedaan karakter wilayah, budaya dll. Simbiosis diupayakan untuk secara kreatif menjaga hubungan harmonis antar tiap perbedaan, merupakan intercultural, hybrid
architecture.

Dalam karyanya pemukiman di Al-Sarir, Libya 1979 – 84 (1991, 93 -94) Kurokawa memadukan teknologi baru dengan alam padang pasir, antara lain dengan memanfaatkan bahan dasar bangunan sand-bricks, dipadukan dengan materi prefabrikasi untuk bahan atap, juga pengaturan sirkulasi udara, dll. Tiap lay out dan desain diupayakan memenuhi keinginan tiap penghuni sehingga tiap rumah memiliki bentuk yang berbeda walau dengan bahan dan struktur yang sama.



KL International Airport - Selangor, Malaysia
Sumber gambar : http://www.kisho.co.jp/page.php/223

Merupakan perpaduan struktur geometric hasil teknologi dengan bentuk kubah sebagai simbol tradisi Islam (dalam bentuk hyperbolic paraboloid shell) juga area hijau seperti penerapan taman dalam airport serta lansekap hutan tropik

Kondisi alam yang semakin tidak pasti di jaman konseptual dan high touch seperti sekarang menjadikan pemikiran desain mengarah pada kebijakan dalam mengolah alam, sustainable construction, eko desain. Konsep simbiosis Kurokawa, uraian Mangunwijaya dalam Wastu Citra, pemikiran Green Architecture Jencks dan Broadbent (pada perkembangan terakhir Broadbent pun terlibat pada pemikiran Green Architecture) secara jelas dan komprehensif menyoroti masalah tersebut.

Benang merah dari ciri pemikiran Broadbent, Jencks, Mangunwijaya dan Kurokawa (selain mampu memberi gambaran lebih luas, menyeluruh dan multidimensi tentang estetika bentuk dan proses desain pada umumnya) adalah kemampuan berpikir metaforis. Bagi saya hal ini yang mampu menjadikan pemikiran-pemikiran keempat tokoh ini fenomenal, memiliki visi masa depan dan memenangkan benak saya sebagai ‘penikmat’ pemikiran sekaligus merupakan pengalaman estetis. Seperti juga kata Twyla Tharp yang dikutip oleh Daniel H. Pink dalam bukunya Misteri Otak Kanan (judul asli adalah A Whole New Mind – 2007), metafor adalah kekuatan yang vital dan pemberi hidup dari semua seni. Selanjutnya Pink menguraikan (2007 : 182 -188)

Proses pemikiran manusia pada umumnya adalah metaforis.
Dalam sebuah dunia yang kompleks penguasaan kiasan-kemampuan otak yang utuh yang disebut oleh sebagian saintis kognitif sebagai rasionalitas imajinatif – menjadi semakin lebih bernilai.

Pemikiran metaforis dapat membantu kita tuk memahami orang lain dan diri kita,
juga menyadari makna. Imajinasi metaforis penting untuk menempa hubunganhubungan empatik dan mengkomunikasikan pengalaman-pengalaman.

Era konseptual juga menuntut kemampuan untuk memahami suatu hubungan diantara hubungan-hubungan, atau dikenal pula dengan istilah pemikiran sistem, pemikiran struktur, pemikiran holistik ataupun melihat keseluruhan perspektif.

Pengenalan pola, pemikiran keseluruhan perspektif dengan bergantung pada penalaran kontekstual yang intuitif memungkinkan para pemimpin untuk memilih kecenderungan-kecenderungan yang bermakna dari campuran informasi di sekitarnya dan berpikir secara strategis jauh ke masa depan.

Saat menelaah proses berpikir metaforis arsitek-arsitek tersebut kita akan menemukan bahwa beragam teori yang dijabarkan punya ‘value’. Dalam hal ini ‘value’ mengarah pada kemampuan membentuk pola pikir kita menjadi lebih menyeluruh dan integral, sekaligus juga membangun kesadaran akan kompleksitas dan konteks permasalahan desain sesuai tuntutan kondisi jaman.

Kekuatan pemikiran desain (yang memberi pula perspektif baru tentang estetika bentuk) ditunjang oleh perwujudan nyata dalam karya oleh arsitek pemikir seperti Mangunwijaya, Jencks, Kurokawa, dkk. menunjukkan bahwa keseimbangan otak kiri dan kanan yang menentukan kekuatan logika, intuisi dan kreativitas kita sungguh penting dalam mendesain. Pada akhirnya membangun perenungan kita untuk berupaya lebih bijak menyikapi beragam permasalahan desain yang semakin kompleks dan tidak pasti.


Daftar Pustaka :
1. Broadbent, Geoffrey, Design In Architecture , John Willey & Sons, Chichester : 1980 (cetakan pertama tahun 1973)
2. Broadbent, Geoffrey; Bunt, Richard ; Jencks, Charles , Sign, Symbol and Architecture, John Willey & Sons, Chichester : 1980
3. YB Mangunwijaya, Wastu Citra, PT. Gramedia, Jakarta : 1988
4. Jencks, Charles , The Architecture of the Jumping Universe, Academy Group Ltd., London : 1996 (cetakan pertama tahun 1995)
5. Kurokawa, Kisho, Intercultural Architecture, A Philosofy of Symbiosis , Academy Group Ltd. and Khiso Kurokawa, London : 1991
6. Pink, Daniel H. , Misteri Otak Kanan (judul asli A Whole New Mind , Riverhead Books, New York : 2006), Penerbit Think, Yogyakarta : 2007
7. Broadbent, Geoffrey, Design In Architecture, makalah seminar Universitas Parahyangan Bandung, 6 Juni 1987
8. Yakob Sutanto, Arsitektur + Tempo, Kompas 17 April 2005 : 33
9. Situs-situs tersebut pada tulisan dan gambar

Copyright artikel diatas pada Jolanda Atmadjaja Herlambang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar